Persahabatan

“Kak, Pulang, Kak…”

Saya berjalan dari kamar mandi putra bersama Mahendra menuju sekretariat panitia Follow Up UK3 2016 pada hari kedua kegiatan, 14 Januari 2016. Sendal segera saya lepas sesampainya di depan pintu. Terlihat sebuah piring dengan sisa nasi dan lauk tergeletak di sofa yang sudah tidak mulus lagi. Bagaimana bisa Andre1 tidak menghabiskan makanannya, pikir saya dalam hati.

Dia adalah satu-satunya orang yang menikmati hidangan makan siang sebelum kami hendak mandi. Saya merasa ada yang janggal. Ternyata benar adanya. “Mas An, disuruh naik sama mas Ricky. Happy (kena) asma,” ujar Derliana dari depan pintu sesaat setelah saya selesai makan. Saya tidak bisa berpikir bagaimana solusi yang akan saya berikan karena tidak paham masalah begituan. Namun saya harus tetap datang ke sana. Terdengar suara cewek dengan desahan berat sedang terkesan sedang merasakan kesakitan ketika saya menaiki tangga menuju aula A.
Di depan pintu aula saya hanya bisa terdiam mendapati bahwa Happy dan Putri dikerumuni teman-teman di lokasi terpisah. Happy terlibat pucat memerah sedangkan Putri lemah lesu dengan mata yang lebih terlihat terpejam. Ternyata suara yang saya dengar tadi adalah suara Putri. Teman-temannya berusaha membuat dua orang UK3 2016 yang mengikuti kegiatan ini untuk lebih tenang. Andre1 mengurus Happy dan Mahendra mengurus Putri di sisi yang berbeda, sebelah utara dan timur. Ternyata situasinya sungguh berbeda dari yang saya bayangkan. Dua buah kasur dari sekretariat dibawa teman-teman untuk mereka. Saya mencoba menghubungi teman saya untuk meminta saran namun telepon saya tidak dijawabnya. “Happy..  Happy…,” ujar Putri dengan suara lirih. Singkat cerita Happy sudah mulai membaik dan bisa berkomunikasi lebih lancar daripada sebelumnya walaupun wajahnya masih tampak memerah. Berbeda dengan Happy, Putri masih terlihat lemas dengan mata cenderung terpejam. Dia masih mengatakan hal yang sama dari sebelumnya. Tak lama kemudian gantian Elvin yang menangis tidak jelas. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saya merasa kikuk. Tak lama kemudian Cornelia mengatakan bahwa mobil sudah siap untuk mengantar Putri ke rumah sakit, entah siapa pemilik mobil tersebut saya tidak sempat berkenalan.

Putri pun digotong ke arah mobil tersebut. “Pengap, gak mau. Pake motor aja”, ungkapnya menolak untuk naik mobil dengan suara lirih. Kami membawanya ke kursi dekat dengan ruang pengurus tempat yang kami pakai untuk membujuknya. “Kak, pulang, Kak…,” sambungnya. Kami semua bingung apa yang sebaiknya kami lakukan. Saya pun mendekatinya untuk membujuk supaya naik mobil untuk kesekian kalinya. Kami menggotongnya kembali untuk masuk ke dalam mobil. Namun dia kembali menolak. “Pengap. Gak mauuu…,” tangannya memegang tangan saya dengan eratnya membuat kami harus meletakkannya kembali menjauh dari mobil. “Mas, ini aku udah di RSUD Ungaran, mau dijemput pakai Ambulan atau gimana?” tanya Verry sesaat setelah saya menjawab teleponnya. Saya memberitahukan bahwa sudah ada mobil yang siap mengantar Putri dan menceritakan keadaanya.

Masih seperti sebelumnya, teman-teman berusaha berkomunikasi dengan Putri supaya dia lebih tenang sehingga bisa mengatur napasnya. “Kak, pulang, Kak…” Akhirnya Putri kami bawa ke RSUD Ungaran dengan membonceng Andre1 dan Indah yang menjaga Putri dari belakang. Satu motor untuk bertiga. Tak berselisih waktu lama setelah mereka berangkat saya menyusul bersama Adang. Kami bertugas membukakan jalan untuk mereka supaya lebih cepat sampai ke rumah sakit. Beruntung saat itu hujan baru saja reda.

Kami segera membawa ke ruang perawat gawat darurat. Di sana sudah ada Verry dan David yang langsung mencari perawat setelah melihat kami sampai di halaman depan. Kami angkat Putri ke tempat tidur. Seorang perawat wanita memberikannya alat yang menutup hidung seperti yang ada di sinetron. Kami juga diberitahukan untuk melakukan registrasi.

“Kak, pulang, Kak…,” kembali kami dengar. Wajahnya lusuh dengan kantung mata sedikit lebih menghitam dan matanya menuju terpejam. Bersandar pun tidak dapat dilakukannya sehingga saya dan Indah perlu memeganginya. Dokter memeriksanya, dan bertanya bagaima kronologis kejadiannya. Saya dan Indah berusaha menjelaskan ke dokter dengan menjawab semua pertanyaannya.

Putri terdiam saat diperiksa dan hanya bisa menjawab dengan sedikit menggerakkan kepalanya mengisyaratkan antara ya atau tidak. “Satu saja ya yang menemani?” pinta dokter yang memeriksanya. Jadilah hanya saya yang ada di dalam ruangan itu. Terdapat empat tidur lainnya yang ada di sana namun hanya satu yang masih kosong.
Saya memegangi kepala dan alat yang dipasangkan di mukanya. Masih terlihat sangat pucat dan terpejam. Saya memerhatikan pola pernapasannya. Saya meminta Adang untuk membeli tisu untuk saya gunakan mengusap air mata yang keluar dari mata kirinya. “Saya beri oksigen dulu ya?” kata seorang perawat sambil melepas alat pertama tadi kemudian menyetel sebuah alat lain di bagian belakang tempat tidur Putri. Dengan posisi tempat tidur yang disetel untuk bisa membuat Putri bersandar perawat tersebut memasang selang yang ia tempatkan di lubang hidung Putri. Sekali lagi, mirip dengan yang ada di sinetron-sinetron.
“Kak, pulang Kak…” suaranya semakin lirih kurang bisa didengar. “Iya, nanti ya. Istirahat dulu biar kuat,” kata saya sambil mengusap-usap rambutnya. Terlihat pola pernapasannya yang masih saja belum teratur. Melihat sedemikian lemahnya saya terbayang apabila adik kandung saya benar-benar mengalami hal demikian. Pasti sedih rasanya. Berulang kali saya mengusap-usap kepalanya supaya dia bisa rileks. Lama kelamaan dia terdiam. Gerakannya semakin sedikit. Saya semakin memperhatikannya dengan seksama karena takut apabila dia benar-benar tidak bergerak lagi. Saya pasti akan menyesal seumur hidup pikir saya khawatir.

Saya berpikir andai saja ada Sakura. Pasti dia bisa menolong dengan kekuatan shinobi medisnya menggunakan kekuatan cakra yang ia miliki. Sayangnya pengobatan di rumah sakit tidak sama seperti yang terdapat di cerita Naruto.
Saya duduk di tempat tidur sebelahnya saat Putri sudah bisa bersandar untuk bisa beristirahat. Sesekali dia masih mengucapkan kalimat yang sama yang membuat saya harus menghampirinya lagi untuk menenangkannya. Saya usap-usap kepalanya, “Sebentar, istirahat dulu ini juga masih hujan.” Lalu dokter yang memeriksa Putri kembali menghampiri saya menyuruh untuk mengambil obat dengan memberikan resep yang ia buat. “Gak mau minum obat,” Putri menyahut. “Udah, kamu istirahat dulu. Kira-kira satu jam lamanya atau sekitar 15.30 WIB keadaannya mulai membaik. Saya lihat dia berusaha untuk membuka matanya secara perlahan. Akhirnya dia berhasil mempertahankan matanya untuk terbuka. “Kak, pulang, Kak…” ucapnya. “Eh dengerin dulu. Istirahat dulu nanti baru pulang L,” sahut saya dari tempat tidur di sampingnya. Keadaannya semakin membaik dia mampu duduk tanpa bersandar. Hal itu membuat saya lega. Tuhan menjawab doa saya. Akhirnya dia bisa turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. Di depan pintu, begitu melihat Putri, teman-teman yang menunggu di luar bersorak menyambut kehadirannya. Mereka membuat senyum tipis Putri muncul. Mereka menanyakan keadaannya saat duduk berdekatan dengan Putri. Saya menarik napas panjang dan mengeluarkannya kembali. Lega rasanya bisa lepas dari situasi sebelumnya. Puji Tuhan kami bisa berbagi tawa kembali. Pengalaman yang sangat berarti.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s